
Persyaratan Kekuatan 3 Kelas Geotextile dari Kementerian PU
Dengan memahami klasifikasi, metode pengujian & dokumen yang diperlukan, pemilihan geotextile dapat lebih tepat & sesuai ketentuan proyek pemerintah & swasta.
Dalam proyek jalan, timbunan, drainase, maupun pekerjaan tanah lainnya yang mengacu pada standar pemerintah, penggunaan geotextile tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan harga atau gramasi material. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menetapkan persyaratan teknis yang harus dipenuhi agar geotextile mampu bekerja sesuai fungsi desain dan bertahan selama umur layanan konstruksi.
Karena itu, kontraktor, konsultan, maupun tim pengadaan perlu memahami bagaimana Kementerian PUPR mengklasifikasikan geotextile serta parameter apa saja yang digunakan untuk menentukan kelayakan suatu produk. Pemahaman ini penting untuk menghindari kesalahan pembelian material yang berpotensi menyebabkan penolakan material saat proses inspeksi proyek.
Dasar Acuan Standar Geotextile Kementerian PUPR
Persyaratan geotextile untuk pekerjaan infrastruktur pemerintah mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, khususnya Divisi 3 Pekerjaan Tanah dan Geosintetik, Seksi 3.5 Geotekstil.
Dalam dokumen tersebut, geotextile diklasifikasikan berdasarkan kemampuan mekanisnya untuk menghadapi kondisi pemasangan yang berbeda. Semakin berat risiko kerusakan selama proses konstruksi, semakin tinggi kelas geotextile yang harus digunakan.
Pendekatan ini diadopsi untuk memastikan material tetap mampu menjalankan fungsi pemisahan, filtrasi, drainase, maupun perkuatan sesuai yang direncanakan oleh perencana proyek.
Geotextile Digunakan Untuk Apa?
Dalam konstruksi sipil, geotextile merupakan material geosintetik permeabel yang dipasang di antara tanah, agregat, batuan, atau material konstruksi lainnya.
Fungsi utama geotextile yang paling sering dijumpai pada proyek pemerintah adalah sebagai separator. Pada aplikasi ini, geotextile mencegah tercampurnya tanah dasar dengan lapisan agregat sehingga ketebalan dan kualitas struktur perkerasan tetap terjaga.
Selain sebagai separator, geotextile juga digunakan sebagai filter yang memungkinkan air melewati material tanpa membawa partikel tanah dalam jumlah yang dapat mengganggu stabilitas konstruksi. Pada beberapa kondisi, geotextile berfungsi sebagai media drainase maupun elemen perkuatan untuk meningkatkan performa tanah lunak.
Karena setiap fungsi tersebut bekerja di lingkungan yang berbeda, maka geotextile yang digunakan juga harus memiliki tingkat kekuatan yang sesuai. Inilah alasan mengapa Kementerian PUPR membagi geotextile ke dalam tiga kelas kekuatan.
Apa Perbedaan Geotextile Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3?
Perbedaan utama ketiga kelas geotextile terletak pada kemampuan material dalam menahan kerusakan selama pengangkutan, pemasangan, penimbunan, dan masa pelayanan konstruksi.
Geotextile Kelas 1 digunakan pada kondisi pemasangan yang memiliki risiko kerusakan tinggi. Geotextile Kelas 2 digunakan pada kondisi menengah, sedangkan Geotextile Kelas 3 digunakan pada kondisi yang relatif ringan.
Klasifikasi ini tidak ditentukan oleh gramasi material, melainkan berdasarkan hasil pengujian laboratorium terhadap parameter mekanis tertentu yang telah ditetapkan dalam spesifikasi.
Dengan kata lain, dua produk yang memiliki gramasi sama belum tentu berada pada kelas yang sama apabila hasil pengujian kekuatannya berbeda.
Persyaratan Kekuatan Geotextile Menurut Kementerian PUPR
Untuk geotextile woven dengan elongasi kurang dari 50 persen, persyaratan minimum yang ditetapkan adalah sebagai berikut.
| Parameter | Kelas 1 | Kelas 2 | Kelas 3 |
| Kuat Grab | 1400 N | 1100 N | 800 N |
| Kuat Sambungan Keliman | 1260 N | 990 N | 720 N |
| Kuat Sobek | 500 N | 400 N | 300 N |
| Kuat Tusuk | 2750 N | 2200 N | 1650 N |
Sedangkan untuk geotextile non woven dengan elongasi lebih dari 50 persen, persyaratan minimum yang digunakan adalah sebagai berikut.
| Parameter | Kelas 1 | Kelas 2 | Kelas 3 |
| Kuat Grab | 900 N | 700 N | 500 N |
| Kuat Sambungan Keliman | 810 N | 630 N | 450 N |
| Kuat Sobek | 350 N | 250 N | 180 N |
| Kuat Tusuk | 1925 N | 1375 N | 990 N |
Nilai-nilai tersebut digunakan sebagai batas minimum yang harus dipenuhi oleh produk geotextile agar dapat dikategorikan ke dalam kelas tertentu.
Kapan Harus Menggunakan Geotextile Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam proses pengadaan adalah bagaimana menentukan kelas geotextile yang tepat.
Secara umum, Geotextile Kelas 1 digunakan pada lokasi yang memiliki risiko kerusakan tinggi selama konstruksi. Kondisi ini biasanya ditemukan pada pekerjaan timbunan tinggi, area dengan alat berat intensif, tanah dasar yang sangat lunak, atau lokasi yang menggunakan agregat berukuran besar.
Geotextile Kelas 2 umumnya digunakan pada proyek dengan kondisi pemasangan menengah, seperti pekerjaan jalan akses, kawasan industri, dan berbagai pekerjaan tanah yang tidak memiliki tingkat risiko kerusakan setinggi aplikasi Kelas 1.
Sementara itu, Geotextile Kelas 3 lebih sesuai digunakan pada kondisi pemasangan ringan dengan risiko kerusakan material yang relatif rendah.
Meskipun demikian, pemilihan kelas tetap harus mengacu pada spesifikasi desain dan dokumen kontrak proyek. Apabila dokumen proyek secara khusus mensyaratkan Kelas 1, maka penggunaan Kelas 2 atau Kelas 3 tidak dapat dijadikan pengganti meskipun secara ekonomi lebih murah.
Metode Uji yang Digunakan Dalam Standar PUPR
Persyaratan kekuatan geotextile tidak ditentukan berdasarkan perkiraan atau klaim pabrikan. Seluruh parameter harus dibuktikan melalui metode pengujian standar yang diakui.
Berikut beberapa metode pengujian yang umum digunakan dalam spesifikasi geotextile.
| Parameter | Metode Uji |
| Grab Strength | ASTM D4632 |
| Seam Strength | ASTM D4632 |
| Tear Strength | ASTM D4533 |
| CBR Puncture Strength | ASTM D6241 / SNI ISO 12236 |
| Apparent Opening Size (AOS) | ASTM D4751 |
| Permittivity | ASTM D4491 |
Keberadaan hasil pengujian dari laboratorium yang kompeten merupakan salah satu dokumen penting yang perlu diminta saat proses evaluasi material.
Berapakah Nomor Referensi Standar Produk Untuk Menentukan Ukuran Bukaan Tampak Geotextile?
Selain parameter kekuatan, Kementerian PUPR juga mensyaratkan pengujian karakteristik hidrolik geotextile. Salah satu parameter yang paling penting adalah Appararent Opening Size (AOS) atau Ukuran Bukaan Tampak.
AOS menggambarkan ukuran pori efektif geotextile yang berpengaruh terhadap kemampuan material dalam menahan partikel tanah sekaligus meloloskan aliran air.
Untuk menentukan nilai tersebut, Spesifikasi Bina Marga mengacu pada SNI 08-4418-1997 yang mengadopsi ASTM D4751 sebagai metode standar pengujian ukuran bukaan tampak geotekstil.
Informasi ini sangat penting terutama pada aplikasi filtrasi dan drainase. Nilai AOS yang terlalu besar dapat menyebabkan partikel tanah ikut terbawa aliran air, sedangkan nilai yang terlalu kecil dapat menghambat aliran air dan mengurangi efektivitas sistem filtrasi.
Checklist Membeli Geotextile Untuk Proyek Pemerintah
Sebelum memutuskan pembelian geotextile, terdapat beberapa hal yang sebaiknya diverifikasi terlebih dahulu.
Pertama, pastikan kelas geotextile yang ditawarkan sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam spesifikasi proyek.
Kedua, minta laporan hasil uji laboratorium yang menunjukkan nilai kuat grab, kuat sobek, kuat tusuk, dan parameter lainnya sesuai metode ASTM yang dipersyaratkan.
Ketiga, periksa apakah produk memiliki data teknis yang jelas mengenai nilai AOS, permeabilitas, dan karakteristik hidrolik lainnya apabila digunakan sebagai filter atau drainase.
Keempat, pastikan identitas produk, nomor batch, dan dokumen pendukung tersedia sehingga material dapat ditelusuri apabila diperlukan proses verifikasi di lapangan.
Pendekatan ini jauh lebih aman dibandingkan hanya membandingkan gramasi atau harga material.
Kesimpulan
Persyaratan kekuatan geotextile menurut Kementerian PUPR mengacu pada klasifikasi Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3 yang ditetapkan dalam Spesifikasi Umum Bina Marga. Klasifikasi tersebut didasarkan pada hasil pengujian parameter mekanis seperti kuat grab, kuat sobek, kuat tusuk, dan kekuatan sambungan, bukan berdasarkan gramasi material semata.
Selain persyaratan kekuatan, parameter hidrolik seperti Appararent Opening Size (AOS) juga harus diperhatikan karena berpengaruh langsung terhadap fungsi filtrasi dan drainase geotextile. Untuk pengujiannya, standar yang digunakan adalah SNI 08-4418-1997 yang mengadopsi ASTM D4751.
Dengan memahami klasifikasi, metode pengujian, dan dokumen yang perlu diverifikasi, proses pemilihan geotextile dapat dilakukan secara lebih tepat serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada proyek pemerintah maupun proyek swasta.
PT Geo Indogreen Karya menyediakan berbagai jenis geotextile untuk kebutuhan proyek konstruksi dan infrastruktur, meliputi:

